Kasus Bagasi, Lion Air Lolos dari Gugatan Penumpang

Nasib baik tampaknya tak berpihak pada Mudriyah. Perempuan asal Batam yang menggugat PT Lion Mentari Airlines ini harus menelan pil pahit usai mendengar putusan majelis hakim. Majelis hakim PN Jakarta Pusat sepakat untuk menolak seluruh gugatan Mudriyah terkait dengan perbuatan melawan hukum yang dituduhkan kepada dilakukan armada penerbangan nasional itu. Untuk sementara Mudriyah kalah.

Untuk diketahui, gugat menggugat ini berawal dari bagasi miliknya yang terdampar di kota lain. Hal ini berakibat fatal. Mudriyah harus kehilangan potensial fulus senilai Rp3 miliar. Kala itu, Mudriyah hendak melakukan transaksi jual beli tanah yang terletak di Semarang. Harga tanah yang sudah disepakati adalah Rp3 miliar.

Untuk menjalankan bisnisnya ini, pada 10 Maret 2012 Mudriyah berangkat dari Batam dengan tujuan Surabaya yang menggunakan jasa angkutan udara Lion Air. Penerbangan tersebut harus transit terlebih dahulu di bandara Soekarno Hatta sebelum sampai ke tujuan akhir.

Sesampai di bandara Soekarno Hatta, para penumpang mengambil bagasinya di tempat pengambilan bagasi. Naas, Mudriyah tidak menemukan bagasinya hingga bagasi seluruh penumpang telah selesai dikeluarkan dari pesawat.

Parahnya, seluruh dokumen penting terkait jual beli tanah berada dalam koper tersebut. Saat Mudriyah melaporkan kejadian ini ke pihak Found and Lost, petugas Lion Air memberitahukan ternyata bagasi miliknya berada di pesawat Lion Air tujuan Batam-Pekanbaru. Alhasil, Mudriyah terpaksa membatalkan penerbangannya ke Surabaya lantaran menunggu bagasi yang terdampar di Pekanbaru.

Karena gagal ke Surabaya, pihak yang berencana membeli tanah milik Mudriyah juga membatalkan perjanjiannya karena dianggap ingkar janji. Atas hal tersebut, Mudriyah menuding Lion Air telah melakukan perbuatan melawan hukum karena telah melakukan kesalahan yang menyebabkan bagasi berisi dokumen penting terdampar ke Pekanbaru.

Karena kesalahan itu, Mudriyah meminta ganti kerugian material seharga dengan tanah yang akan dijualnya, Rp3 miliar. Selain meminta ganti rugi telah gagal menjual, Penggugat juga meminta Lion Air membayar uang penginapan, transportasi, biaya kerusakan koper dengan total Rp12 juta.

Tidak hanya itu, Mudriyah juga meminta ganti kerugian senilai Rp20 miliar. Hal ini dianggap sebagai tanda uang penghiburan karena Mudriyah telah dimaki-maki, disebut pembohong, serta beberapa kata kasar lainnya oleh calon pembelinya. Selain dimaki, Mudriyah juga diperlakukan dengan tidak baik oleh Lion Air. Bahkan, petugas Lion Air telah membongkar isi koper penggugat tanpa persetujuannya dan kopernya yang semula digembok dengan kunci hanya ditutup dengan kawat.

Rupanya, majelis hakim tidak sepakat dengan keluhan Mudriyah. Majelis melihat dalil-dalil tersebut tidak dapat membuktikan Lion Air telah melakukan perbuatan melawan hukum. Menurut majelis, untuk mengatakan suatu perbuatan dikategorikan sebagai perbuatan melawan hukum harus memenuhi unsur-unsur dari perbuatan melawan hukum itu sendiri sebagaimana diatur dalam Pasal 1365 KUHPerdata.

Adapun unsur-unsur perbuatan melawan hukum itu sendiri ada empat, yaitu ada suatu perbuatan yang melanggar hukum; harus ada kesalahan; harus ada kerugian yang ditimbulkan, dan harus terdapat hubungan kausal antara perbuatan dan kerugian. Unsur ini pun bersifat kumulatif.

Selain itu, majelis juga menggunakan pengertian perbuatan melawan hukum dalam arti luas. Perbuatan dalam arti luas adalah tidak hanya melanggar hukum, tetapi juga melanggar norma kepatuhan yang hidup di masyarakat, ketertiban, dan melanggar kewajiban hukum orang lain.

Majelis hakim tidak melihat ada perbuatan melawan hukum yang dilakukan Lion Air karena tidak ada hubungan kausal terdamparnya koper dengan gagalnya jual beli tanah tersebut. “Tergugat tidak terbukti melakukan perbuatan melawan hukum,” putus ketua majelis hakim, Edy Suwanto, dalam persidangan, Selasa (21/5).

Nusirwin, pengacara Lion, senang atas putusan majelis. “Putusan majelis telah tepat,” ucapnya singkat.
Sebaliknya, kuasa hukum Mudriyah, Bazarin Amal menyatakan tidak puas. Menurutnya, pertimbangan majelis yang mengatakan perbuatan Lion Air tidak termasuk kategori perbuatan melawan hukum tidak tepat. Bazarin tetap berpendapat bahwa terdamparnya bagasi tersebut hingga ke Pekanbaru merupakan penyebab gagalnya jual beli tanah tersebut. “Kami akan melakukan banding,” ucapnya.

Sumber: HukumOnline

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s