Pariwisata Riau Membodohi Masyarakat

Kondisi pariwisata Riau berada dalam kondisi sakit. Uang APBD yang digelontorkan mencapai ratusan miliar setiap tahun, namun tidak membawa hasil siginifikan.

Pariwisata tidak mampu berkembang karena pemerintah kabupaten dan kota se-Riau ingin memajukan seluruh objek wisata, tanpa fokus yang jelas.

“Dinas Pariwisata di Riau banyak melakukan pembodohan kepada masyarakat. Berbagai fasilitas pariwisata dibangun semata-mata dengan orientasi proyek, tapi tidak memberikan hasil. Sudah mahal, namun tidak dijaga dan dibiarkan rusak,” ujar Ketua Asosiasi Perjalanan Wisata Riau, Ibnu Mas’ud pada diskusi bulanan Riau Press Corner di Hotel Furaya Pekanbaru, Selasa (21/5/2013).

Menurut Ibnu, salah satu pembodohan itu misalnya, objek wisata Pulau Jemur yang terletak di Selat Malaka, wilayah Kabupaten Rokan Hilir.

Pulau itu disebutkan memiliki pantai indah dan sangat potensial sebagai objek pariwisata karena dekat dengan negara Malaysia.

Di pulau itu dikabarkan telah memiliki berbagai fasilitas pendukung, termasuk kantor imigrasi untuk wisatawan asing.

“Ketika saya berangkat ke pulau itu, ternyata tidak ada apa-apa disana. Pantainya pendek dan berbatu karang. Tidak ada orang yang bermukim disana kecuali petugas TNI AL yang berjaga di pulau terluar. Dengan kondisi saat ini, Pulau Jemur sama sekali tidak layak sebagai objek wisata,” ujar Ibnu.

Masih ada proyek wisata mubazir di Bengkalis. Kebun binatang yang dibangun dengan dana puluhan miliar, di Selat Baru, kini sudah menjadi sarang tikus.

Hewan-hewan yang yang dulu menghuni kebun sudah mati. Kebun binatang yang dibangun pada periode Bupati Syamsurizal itu, tidak terurus dan berada pada daerah rendah yang gampang tergenang air hujan.

Yusril Ardanis, ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia Riau mengungkapkan, ada seorang bupati yang tidak mau mengembangkan kawasan Candi Muara Takus di Kabupaten Kampar.

Ketika ditanya, sang bupati mengatakan tidak ingin membangun kawasan bersejarah itu dengan alasan, candi itu tidak islami.

Lain lagi dengan Pariwisata Kota Pekanbaru. Kepala Dinas Pariwisata Pekanbaru, Detrayani Bibra lebih banyak mengungkapkan gagasan besar pariwisata kota di masa mendatang.

Berbagai rencana sudah digagas, namun masih terkendala dana dan mengharapkan dana bantuan dari Pemerintah Provinsi Riau.

Mau tau anggaran Dinas Pariwisata Pekanbaru? Menurut Detrayani mencapai Rp 250 miliar per tahun. Adapun hasil pariwisata hanya memasukkan dana Rp 16 juta.

Bupati Siak Syamsuar tampaknya lebih realistis. Dia mengakui, pariwisata di daerahnya masih tertinggal dibandingkan kota lain di Indonesia.

Namun, dikepemimpinannya empat tahun lagi, dia bertekad untuk tidak lagi mengandalkan pemasukan dari sektor minyak dan gas bumi.

“Tidak lama lagi bumi Siak akan kehabisan migas. Sektor wisata akan menjadi pilihan kami untuk dikembangkan. Kami memiliki objek sangat potensial seperti Istana Siak, yang masih memiliki Komet (gramofon besar) buatan Jerman yang masih aktif. Di Jerman saja, komet seperti itu, sudah rusak. Kami memiliki tenun songket asli Siak yang sekarang kami masukkan pelajaran tenun dalam kurikulum sekolah. Kami juga memiliki wisata sungai. Mudah-mudahan kami dapat membangun museum perminyakan, karena di Siak (Minas) pertama kali ditemukan sumur minyak di negeri ini,” kata Syamsuar.

Narasumber utama dalam pertemuan itu, Ansar Ahmad mengungkapkan, saat membangun pariwisata Bintan, dia membuat rencana induk pengembangan wisata terlebih dahulu. Rancangan itu dibuat bersama dengan pakar dan praktisi pariwisata.

“Rancangan itu dilakukan agar kami tidak berpikir sporadis dan bias. Kami membuat bench mark dengan tata ruang dengan menetapkan beberapa titik pariwisata. Awalnya kami memang mengandalkan wilayah Lagoi sebagai objek menarik wisatawan dari Singapura. Namun kini kami sudah memiliki berbagai even internasional yang tidak pernah sepi. Kami fokus dan dalam setiap even kami mengajak even organiser internasional. Hasilnya luar biasa,” kata Ansar.

Bulan Juni mendatang, Bintan akan melakukan even Triatlon internasional yang bertajuk Meta Man Bintan 2013. Perserta hanya dibatasi 1.000 orang dan pendaftaran saat ini sudah ditutup, karena kuota telah penuh.

Saat ini Bintan terus membangun beberapa objek yang dibiayai investor asing asal Selandia Baru, China dan Uni Soviet dan Singapura. Pada tahun 2012, wisatawan yang datang ke Bintan mencapai 471.000 orang yang 80 persen diantaranya merupakan wisatawan asing. Tahun 2016, dia bertekad akan membawa masuk 1 juta wisatawan ke daerahnya.

Dana APBD untuk pariwisata Bintan tidak sampai Rp 10 miliar dengan pendapatan asli daerah (PAD) mencapai Rp 60 miliar.

Bandingkan dengan Dinas Pariwisata Pekanbaru yang mengeluarkan dana Rp 250 miliar per tahun, namun PAD Cuma Rp 16 miliar.

O ya, Kepala Dinas Pariwisata Riau, Said Syarifudin dan Anggota Komisi C DPRD Riau yang membidangi pariwisata, tidak hadir dalam pertemuan itu, meski sudah diundang panitia.

Sumber: KompasCom

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s